ALVIN ARIFIN
Search for:
Leader Atau Pemimpin


            Pemimpin adalah orang yang memiliki wewenang utama sebagai pengambil keputusan. Pemimpin yang baik bukan hanya pemimpin dapat mengambil keputusan secara cepat, melainkan dapat mengambil keputusan berdasarkan keyakinannya. Artinya apabila suatu pemimpin mengambil keputusan secara cepat mungkin kurang maksimal, tetapi apabila seorang pemimpin mengambil keputusan dengan cepat karena dia yakin akan keputusan yang diambilnya, maka itulah pemimpin yang memiliki mentalitas sebagai seorang pemimpin. Karena seorang pemimpin adalah ujung tombak dari bawahannya. Dia yang mengambil keputusan, dia pula yang pertama akan menerima dampak dari hasil keputusannya baik keputusannya tepat atau tidak tepat. Beberapa tugas seorang pemimpin dapat dijabarkan sebagai berikut.
1.      Sebagai Pengambil Keputusan
Sangat jelas seorang pemimpin adalah orang yang mengambil keputusan akhir. Walaupun berbagai macam masukan atau perbedaan pendapat antar beberapa orang dalam suatu organisasi, tetap yang memiliki wewenang dalam memberikan keputusan akhir adalah seorang pemimpin. Baik keputusan yang dibuatnya tepat atau tidak tepat. Karena dialah yang akan bertanggung jawab atas semua keputusan yang dibuatnya.
2.      Mengatur Roda Kehidupan Organisasi yang Dipimpinnya
Seorang pemimpin harus mengatur serta memberi arahan kepada setiap anggotanya agar tidak terjadi kesalahan koordinasi dalam pelaksanaan tugas. Apabila tugas dan wewenang yang diberikan oleh seorang pemimpin tepat, maka pekerjaan akan berjalan lebih efisien.
3.      Melindungi Organisasi yang Dipimpinnya
Setiap pemimpin adalah nahkoda dari suatu organisasi. Oleh karenanya, dialah yang wajib menjaga organisasi agar tidak tenggelam. Karena setiap pemimpin merupakan kunci bagi semua bawahannya. Apabila suatu organisasi dalam keadaan terancam maka dialah yang harus melindungi dan berada dibaris terdepan dalam melindungi organisasi. Karena satu organisasi mencakup orang banyak yang ada di dalamnya dan seorang pemimpin yang harus melindunginya demi semua anggota-anggotanya.
4.      Menjaga Kesejahteraan Bawahannya
Tidak ada organisasi tanpa adanya anggota di dalamnya. Dan tidak ada pemimpin tanpa adanya orang yang dipimpinnya. Oleh karena itu, anggota-anggota organisasi sangatlah penting dalam organisasi. Cara agar anggota tetap ada adalah mensejahterakannya. Mensejahterakannya merupakan sebuah balas budi karena keberadaanya merupakan faktor yang paling penting dalam kehidupan suatu organisasi.
Beberapa penjelasan di atas merupakan tugas seorang pemimpin. Seorang pemimpin dalam melaksanakan tugasnya harus memiliki karakteristik-karakteristik yang membuatnya layak menjadi seorang pemimpin. Berikut ini beberapa penjelasan apa saja yang harus dimiliki seorang pemimpin.
1.        Mentalitas
Seorang pemimpin harusnya sudah memilki mentalitas sebagai pemimpin. Hal ini karena pemimpin memiliki tanggung jawab yang besar atas semua yang dipimpinnya. Sehingga apabila mental yang dimilikinya buruk, maka akan berdampak pada semua yang dipimpinnya. Dan roda kehidupan organisasi tidak berjalan dengan baik.
2.        Tegas
Pemimpin itu harus memiliki ketegasan khususnya dalam mengambil keputusan. Hal ini karena setiap pemimpin dalam mengambil keputusan pasti ada yang sependapat atau tidak. Dan ketegasan seorang pemimpin yang menjadi keputusan akhir sehingga keputusan yang diambilnya mutlak dan harus diikuti oleh setiap anggotanya. Apabila seorang pemimpin tidak memiliki ketegasan maka dapat menimbulkan perselisihan. Oleh sebab itu ketegasan harus dimiliki seorang pemimpin.
3.        Wawasan Luas
Seorang pemimpin harus memiliki wawasan yang luas. Hal ini sebagai penunjang dalam mencari ide-ide dan gagasan-gagasan bagus serta rencana masa depan. Dalam mencari ide-ide serta gagasan-gagasan yang bagus guna menunjang dalam merencanakan sesuatu di masa depan yang dibutuhkan adalah wawasan yang luas. Strategi yang bagus dalam merencanakan sesuatu guna mencapai tujuan organisasi dapat diperoleh dari wawasan yang dimiliki seorang pemimpin. Wawasan yang luas juga merupakan faktor penting dalam mengambil keputusan. Hal ini karena dengan wawasan yang luas seorang pemimpin dapat membedakan mana yang baik dan buruk serta yang benar dan salah.
Demikian beberapa penjelasan mengenai seorang pemimpin. Kesimpulannya, pemimpin yang utama adalah memiliki mentalitas atau siap memimpin. Karena seorang pemimpin memiliki tanggung jawab yang besar. Apabila seorang pemimpin tidak siap menjadi pemimpin maka akan berdampak pada organisasi yang dipimpinnya. Pemimpin harus siap menjalankan semua tugas dan wewenangnya sebagai seorang pemimpin. Bahkan dia berada di barisan depan apabila terjadi sesuatu dengan organisasi yang dipimpinnya. Jadi, karena tugas seorang pemimpin yang berat maka suatu organisasi harus dipimpin oleh orang yang tepat.

DOWNLOAD TO PDF
Tips Mudah Mengatur Anggaran Belanja Sehari-hari


Berhemat merupakan perilaku mudah tetapi sulit diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Penyebabnya karena keinginan setiap individu yang selalu tidak puas dan mudah tergiur apabila memiliki uang. Sebelum membahas lebih lanjut, perlu dipahami terlebih dahulu penyebab kenapa seseorang sering berperilaku boros.
1.      Penghasilan yang Tinggi
Bagi seseorang yang memiliki penghasilan tinggi kemungkinan cenderung akan menghambur-hamburkan penghasilannya atau lebih boros dari seseorang yang berpenghasilan rendah. Hal ini disebabkan karena orang yang berpenghasilan tinggi cenderung tidak khawatir kehabisan uang dan justru menganggap sayang apabila uang yang ada tidak digunakan. Coba bandingkan dengan yang berpenghasilan rendah, pasti akan selalu menjaga anggaran karena khawatir uang yang ada akan cepat habis.
2.      Pergaulan
Orang yang bergaul dengan seseorang yang memiliki sifat boros memiliki kecenderungan juga akan memiliki sifat yang sama. Jadi jagalah pergaulan secara sehat tanpa menghambur-hamburkan uang.
3.      Gaya Hidup
Perilaku boros sering terjadi pada orang yang bergaya hidup mewah. Gaya hidup merupakan kebiasaan seseorang sehari-hari. Biasanya gaya hidup mewah dilakukan oleh kalangan menengah ke atas. Hal yang paling diperhatikan adalah penampilan. Hal ini terjadi karena sifat alamiah seseorang yang ingin tampil sempurna dengan berpedoman mengikuti jaman. Gaya hidup mewah tidak baik karena dapat menghambur-hamburkan uang. Berbahaya apabila yang melakukan gaya hidup mewah adalah orang dengan penghasilan rendah  yang ingin keliahatan elegan tanpa memikirkan uang yang dimiliki.
4.      Uang Bukan dari Penghasilan Sendiri
Seseorang yang memiliki uang tetapi yang bukan penghasilan sendiri juga cenderung boros. Hal ini karena apabila seseorang yang berpenghasilan sendiri lebih cenderung berfikir akan susahnya mencari uang dibanding dengan yang memiliki uang tapi bukan penghasilan sendiri atau dengan kata lain merupakan pemberian. Hal ini biasanya terjadi pada pelajar atau mahasiswa yang belum bekerja tetapi memiliki penghasilan dari pemberian orangtua.
Beberapa contoh beserta penjelasan di atas sangat lumrah terjadi. Sehingga perlu adanya solusi bagaimana mengatur anggaran agar tidak boros. Pepatah mengatakan hemat itu pangkal kaya. Banyak orang yang berpikir perilaku hemat merupakan perilaku orang miskin. Tetapi kenapa orang kaya kebanyakan tidak bisa melakukannya? Hal itu terjadi karena kecenderungan orang yang tidak dapat menggunakan uang secara benar atau tidak bisa mengatur pengeluaran sehari-hari. Orang yang pintar dalam menggunakan uang akan menggunakannya secara tepat sasran sesuai dengan kebutuhannya sehingga tidak dihambur-hamburkan begitu saja walaupun orang tersebut kaya. Oleh karena itu walau seseorang tersebut kaya apabila dia cerdas dalam mengatur keuangan maka dia tidak akan menghambur-hamburkan uang begitu saja. Sehingga penghasilan yang didapat bisa ditabung sebagai aset atau lain sebagainya guna digunakan untuk keperluan yang mendesak.
Tips berikut ini sedikit banyak bisa membantu untuk anda yang berpanghasilan tinggi, orang kaya, orang sederhana ataupun orang yang memiliki penghasilan pas-pasan yang ingin berhemat dan mengatur keuangannya secara benar. Apa yang harus dilakukan? Simak beberapa poin berikut ini,
1.      Membuat Daftar Susunan Anggaran untuk Harian, Mingguan atau Bulanan.
Agar penggunaan uang tepat sasaran maka diperlukan susunan anggaran sebagai perencanaan pengeluaran untuk harian, mingguan atau bulanan. Karena fungsinya agar pengeluaran tepat sasaran, maka penggunaan uang akan lebih terkontrol. Lebih mudah daftar susunan anggaran dibuat harian, mingguan atau bulanan.
Contoh: Apabila kita menganggarkan tiap hari Rp 50.000 maka tiap harinya kita membelanjakan uang tidak boleh lebih dari segitu. Berarti sebulan anggaran yang akan dikeluarkan Rp 1.500.000.
Nominal tersebut harus sesuai dengan perhitungan atau perkiraan yang matang agar pas digunakan dan tidak kurang. Apabila ada kebutuhan yang mendesak maka boleh kita mengeluarkan uang lebih dari Rp 50.000 dengan beberapa cara menyiasati agar anggaran tidak melebihi anggaran bulanan.
Contoh: Anggaran yang ditetapkan perharinya tadi Rp 50.000. Karena ada pengeluaran yang tak terduga pada hari X anggaran tak terduga yang dibutuhkan Rp 10.000 sehingga pada hari X anggaran menjadi Rp 60.000. Bagaimana menyiasatinya? Caranya adalah dengan memotong anggaran dihari-hari berikutnya. Bisa langsung diganti penuh sehingga di hari berikutnya anggaran menjadi Rp 40.000 atau Diangsur Rp 1000 selama sepuluh hari.
2.      Memisahkan Antara Pengeluaran dalam Anggaran dengan Tabungan.
Tips selanjutnya adalah memisahkan antara anggaran dengan tabungan. Sebagaimana contoh pada poin pertama tadi, apabila anggaran perharinya tadi Rp 50.000 berarti sebulannya uang yang ada disaku hanya Rp 1.500.000 dan selebihnya adalah tabungan yang jangan sampai digunakan tidak sesuai anggaran yang direncanakan tadi kecuali apabila ada kebutuhan yang tak terduga atau benar-benar mendesak.
Dalam memisahkan anggaran dengan tabungan bisa juga dengan cara membuat dua rekening sehingga lebih aman. Juga bisa disesuaikan dengan keinginan apakah anggaran tadi disimpan dalam rekening atau disimpan secara tunai. Tetapi agar lebih aman sebaiknya disimpan dalam rekening  demi keamanan dan juga menjauhkan dari naluri manusia yang mudah tergiur apabila ada uang tunai nganggur di dompet.
3.      Dapat Menahan Diri atau Tidak Mudah Tergiur
Walaupun perencanaan anggaran dibuat dengan matang dan sistematis tetapi apabila sifat boros dan mudah tergiur akan sesuatu yang dapat menguras penghasilan kita maka akan sia-sia saja perencanaan anggaran yang telah dibuat. Hal ini sudah menyangkut kesadaran personal masing-masing individu. Sehingga alangkah baiknya apabila lebih dapat menahan diri. Perlu diingat yaitu tanamkan perilaku hemat pada diri kita guna menjaga dari boros karena perilaku boros adalah perilaku tidak baik.
Demikian beberapa tips agar dapat mengatur anggaran sehari-hari agar tidak boros. Perlu diingat perilaku hemat yang dilakukan jangan sampai membuat kita menjadi pelit atau kikir. Karena hemat dan pelit atau kikir itu berbeda begitu halnya dengan boros dan dermawan juga berbeda. Hemat adalah perilaku bijak dalam menggunakan uang sesuai dengan kebutuhan sedangkan pelit adalah perilaku tidak mau berbagi dengan orang lain walau kita memiliki kemampuan untuk berbagi. Kemudian boros sendiri adalah perilaku menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak dibutuhkan atau cenderung tidak berguna, sedangkan dermawan adalah kebalikan dari pelit yaitu sifat yang suka berbagi apa yang dimiliki dengan orang lain yang membutuhkan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki sehingga tidak akan merugi.
Perlu diingat kembali bahwa perilaku hemat yang dilakukan jangan sampai membuat kita menjadi pelit karena hemat di dunia untuk tabungan dunia sedangkan perilaku dermawan sebagai tabungan amal kita kelak di akherat. Uang didapat dengan susah yaitu melalui suatu pengorbanan, bisa dari hasil kerja keras dan lain sebagainya. Sehingga sangatlah tidak bijak apabila dihamburkan begitu saja. Maka jadilah manusia yang bijak dalam mengatur keuangan sehingga tidak hidup dalam keborosan.

DOWNLOAD TO PDF
Motivasi Sebagai Pendongkrak Kinerja



Setiap individu memiliki kemampuan serta potensi terpendam dalam dirinya. Potensi tersebut dapat muncul tergantung pada keinginan setiap individu tersebut. Setiap potensi dalam diri setiap individu dapat muncul apabila ada rangsangan atau dorongan kuat baik rangsangan dari luar maupun dari dalam. Hal tersebut yang dinamakan dengan motivasi. Motivasi merupakan suatu rangsangan atau pendorong setiap individu dalam memunculkan semua potensi yang dimiliki guna mencapai suatu tujuan secara maksimal. Sehingga  motivasi digunakan sebagai pendongkrak kinerja seseorang.



Semakin tinggi motivasi yang diberikan akan semakin muncul potensi terpendam yang dimiliki sehingga pekerjaan dilakukan secara masksimal. Dampaknya berpengaruh terhadap kinerja yang maksimal. Motivasi yang diberikan biasanya dibagi menjadi 2 (dua) yaitu:
1.      Motivasi Positif
Motivasi positif biasanya merupakan motivasi yang sifatnya memberikan hadiah sebagai rangsangan. Contohnya: Penghargaan, bonus, insentif, dan lain sebagainya. Motivasi ini akan membuat seseorang akan tergiur dan berlomba-lomba guna mendapatkannya. Sehingga pekerjaan yang dilakukan akan dilakukan secara bersungguh-sungguh.
2.      Motivasi Negatif
Motivasi negatif biasanya merupakan motivasi yang sifatnya memberikan hukuman atau sanksi apabila seseorang tidak melakukan tugasnya secara maksimal. Contohnya: Pemotongan gaji apabila pekerjaan tidak sesuai target, di PHK atau lain sebagainya. Motivasi ini membuat seseorang dalam tekanan karena takut akan menerima hukuman. Sehingga pekerjaan dilakukan secara maksimal dan hati-hati.
Dari penjelasan di atas 2 (dua) macam motivasi ini biasanya digunakan secara bersamaan agar kinerja yang dihasilkan lebih maksimal. Oleh sebab itu, manajemen akan membuat suatu motivasi yang dapat menarik kemauan dari setiap karyawan atau pegawai. Apabila seseorang tidak memiliki kemauan maka motivasi yang dilakukan akan sia-sia. Sehingga motivasi disesuaikan dengan kemauan setiap karyawan.
Jadi motivasi disini digunakan sebagai alat dalam mendongkrak kinerja. Karena motivasi merupakan strategi manajemen guna membuat karyawan mengeluarkan semua kemampuan yang ada dalam dirinya agar dapat bekerja secara maksimal. Semakin tinggi motivasi yang diberikan akan semakin baik kinerja yang dihasilkan. Sehingga motivasi digunakan sebagai alat guna mendongkrak kinerja karyawan.

DOWNLOAD TO PDF
Dasar Suatu Penelitian

Penelitian yang baik merupakan penelitian yang dapat dijadikan referensi bagi orang lain. Apabila penelitian hanya didasarkan pada kesenangan semata dan tidak dapat dimanfaatkan oleh orang banyak, maka penelitian tersebut kurang memberikan kontribusi bagi ilmu pengetahuan. Ada beragam penelitian yang dapat digunakan sebagai referensi serta pesan yang digunakan sebagai dasar untuk orang lain. Salah satunya adalah pengamatan fenomena-fenomena yang ada kemudian dihubungkan dengan beberapa teori-teori dari berbagai sumber sehingga penelitian tersebut akurat.
Contoh:
Seseorang yang  suka atau hobi keliling dunia kemudian mengumpulkan beberapa informasi dan informasi yang dikumpulkan kemudian dibuat menjadi data yang disebarkan sebagai informasi untuk orang banyak.
Dari contoh diatas secara tidak langsung orang tersebut melakukan penelitian yang didasarkan pada kesenangan sekaligus memberikan informasi pada orang banyak. Apabila informasi tersebut berguna bagi orang banyak maka penelitian tersebut memiliki manfaat ganda. Tidak hanya dapat menyalurkan kesenangan tetapi juga dapat memberikan informasi pada orang lain. Lain halnya apabila informasi yang diberikan tidak begitu berguna bagi orang lain maka hanya kesenangan yang didapat.
Jika seseorang tersebut hanya memberikan informasi cuma sekedar iseng atau dengan kata lain apabila informasi yang diberikan dapat dijadikan referensi ya bagus dan apabila tidak digunakan tidak masalah, maka itu tidaklah masalah. Karena niat yang sebenarnya bersenang-senang atau menyalurkan hobi bukan mengumpulkan informasi. Tapi lain halnya jika sebaliknya apabila niat utama adalah mencari informasi dengan berkeliling dunia karena kesukaan atau atas dasar hobi keliling dunianya tetapi informasi tersebut tidak begitu bermanfaat bagi orang lain walau telah melakukan keliling dunia sekalipun. Apa yang dia dapat? Hanya kesenangan semata.
Apakah yang Menjadi Dasar Suatu Peneltian

Dasar peneilitian itu mengumpulkan informasi kemudian dikumpulkan dan diinformasikan kembali dengan cara disebar seperti gambar diatas. Apabila informasi yang dikumpulkan dengan waktu serta biaya yang banyak tidak mengena pada orang lain maka informasi tersebut gagal. Dengan kata lain penelitian yang dilakukan tersebut tidak atau kurang bermanfaat.
Informasi ibaratnya seperti makhluk hidup yang selalu berkembang. Penelitian atau informasi yang berhasil apabila banyak orang yang menjadikannya sebagai referensi. Apabila penelitian atau informasi yang diberikan selalu diperbaharui atau banyak orang yang menelitinya secara berulang-ulang, maka penelitian tersebut berguna. Juga disesuaikan manfaat apa yang bisa didapat dengan penelitian yang dibuat tersebut.
Contoh:
Harga bahan bakar yang mahal dan terbatas membuat seorang ilmuwan membuat alternatif bahan bakar yang murah dengan bahan tertentu.
Apabila dasar dari penelitian tersebut mengacu pada harga bahan bakar yang mahal dan terbatas sehingga dibutuhkan alternatif lain yang membuat seorang ilmuwan melakukan penelitian. Penelitian ini menarik apabila banyak orang yang meneliti tetapi akan menjadi tak menarik apabila penelitian ini tidak memiliki respon apa-apa dari orang lain. Apa yang menjadi dasar penelitian tersebut dilakukan sehingga kemungkinan besar akan bermanfaat? Dari fenomena-fenomena yang ada.
Sebagai contoh harga bahan bakar yang mahal dan terbatas membuat sering dijumpai antrian panjang pembeli bahan bakar serta melihat beberapa kelangkaan membuat masyarakat kesusahan. Sehingga jelas apabila ada bahan bakar alternatif akan lebih bermanfaat. Dari fenomena-fenomena tersebut seorang penelitian sudah dapat menyimpulkan lebih awal apakah penelitiannya bermanfaat atau tidak. Sehingga dibuatlah penelitian tersebut.
Jadi penelitian yang memberikan informasi berguna bagi orang banyak akan lebih bermanfaat dibandingkan suatu informasi yang dibuat seadanya atau sembarangan sehingga tidak atau kurang memberikan informasi yang berguna.

DOWNLOAD TO PDF
Sukses Dengan Proses



Setiap menyelesaikan persoalan matematika dibutuhkan proses sehingga didapat hasil yang dicari. Semakin sulit soal yang dikerjakan maka semakin panjang proses yang dilakukan sebelum mendapatkan hasil yang diperoleh. Tetapi tidak halnya apabila soal yang dikerjakan begitu mudah maka proses yang dibutuhkan pun cepat atau juga secara instan. Sehingga tergantung seberapa besar kemauan seseorang untuk mendapatkan hasil yang besar atau sekedar hasil seadanya.
Begitupun dengan kesuksesan. Kesusksesan yang diperoleh dengan proses yang panjang akan lebih mudah menghadapi kesulitan dari pada kesuksesan yang diperoleh secara cepat. Belajar dari contoh soal matematika tadi, semakin sulit soal yang bisa dikerjakan akan semakin mudah mengerjakan soal dengan tingkat kesulitan di bawahnya. Tetapi semakin mudah soal yang bisa dikerjakan maka akan semakin sulit untuk mengerjakan soal dengan tingkat kesulitan di atasnya. Mengapa demikian? Karena proses yang pernah dilewati lebih susah sehingga apabila mengalami kesulitan dibawahnya akan lebih mudah. Sehingga dengan kata lain sesuatu yang lebih mudah dibanding kesulitan yang pernah dialami merupakan suatu kemudahan.
Dari pendahuluan di atas jelas apabila ingin mencapai tujuan yang besar maka dibutuhkan proses. Apabila seseorang menempatkan kesuksesan sebagai tujuan maka harus bersiap-siaplah menjalani setiap proses yang akan terjadi. Proses yang dialami tidaklah selalu sulit. Pasti ada beberapa tingkatan kesulitannya. Tergantung mampukah menghadapi setiap proses menuju tujuan tadi. Apabila belum sampai pada tujuan tetaplah melangkah karena semakin jauh menjalani setiap proses maka semakin dekat tujuan yang akan tercapai. Tetapi apabila di tengah jalan menghadapi kesulitan dan mundur maka tujuan yang semakin dekat akan semakin jauh.
Gambar diatas menggambarkan proses yang dijalani dengan beragam tingkat kesulitan. Apabila seseorang telah menjalani suatu proses maka sebenarnya dia semakin dekat dengan tujuan. Kunci utama seseorang agar terus menjalani setiap proses menuju kesuksesan adalah optimis dan tidak menyerah.
Bisakah Sukses tanpa Proses alias Sukses secara Instan?
Bisa saja seseorang sukses secara instan atau cepat. Tetapi sesuatu yang instan memiliki resiko yang lebih besar dibandingkan sesuatu dengan proses yang matang. Proses merupakan pondasi untuk menopang kesuksesan. Apabila kesuksesan tanpa pondasi maka setiap diterpa kesulitan kesuksesan tersebut lebih mudah ambruk.
Jadi, proses menuju kesuksesan dilakukan bertahap dengan melalui setiap kesulitan yang ada. Setiap orang yang sukses dengan menjalani setiap proses guna mencapai tujuan yang diinginkan memiliki kepuasan yang besar dibanding kesuksesan yang didapat secara instan. Proses merupakan pengalaman serta pelajaran yang didapat seseorang dalam menghadapi setiap kesulitan guna mencapai tujuan. Oleh karena itu seseorang harus tetap optimis dalam menghadapi setiap kesulitan yang ada. Sehingga sikap optimis akan membuat seseorang tidak mudah menyerah sampai tujuannya tercapai.

DOWNLOAD TO PDF
Ilmu Sebagai Pondasi Sumber Daya Manusia yang Berkualitas
Fenomena yang terjadi di Indonesia dimana orang bekerja tidak pada bidangnya. Akibatnya sumber daya manusia yang banyak tidak dapat mendorong kualitas suatu pekerjaan. Sumber daya manusia yang ada hanya di manfaatkan tenaga tapi tidak dengan pemikirannya. Walaupun terkadang ada beberapa pemikiran yang dapat diterima, tetapi tidak akan semaksimal dengan para ahli dibidangnya. Fenomena-fenomena ini banyak dijumpai pada perusahaan-perusahaan atau perkantoran yang hanya berorientasi seadanya tanpa berfikir konsistensi pekerjaan itu sendiri di masa depan.
Ilmu yang dimiliki seseorang akan bermanfaat apabila diaplikasikan pada bidangnya. Sehingga ilmu yang dimiliki diaplikasikan dengan tepat sasaran.
Pada gambar diatas dijelaskan orang yang bekerja sesuai dengan bidang atau ilmu yang dimiliki memiliki korelasi sehingga terjadi konsistensi dengan apa yang dikerjakan dan melaju lurus tanpa hambatan. Sedangkan orang yang bekerja tidak sesuai dengan bidang yang dimiliki cenderung akan memulai kembali dari awal. Sebagai contoh seorang teknisi yang bergelut dibidang keuangan atau perbankan pasti akan mengalami kesulitan diawal. Hal ini terjadi karena tidak adanya korelasi ilmu yang didapat dengan bidang yang digeluti.
Pentingkah Korelasi Ilmu dengan Bidang yang Digeluti?
Bagi suatu lembaga atau perusahaan yang cenderung berfikir efektifitas seorang pekerja atas suatu pekerjaan hal ini sangat penting. Alasannya, lembaga atau perusahaan yang dibangun dengan pondasi keilmuan akan lebih efektif dan memiliki resiko rendah. Apabila ilmu dikorelasikan dengan bidang yang digeluti akan lebih efektif juga karena tidak perlu memulainya dari awal dibanding yang tidak sesuai dengan bidangnya, cukup digali potensi yang terpendam di dalamnya. Tidak halnya dengan ilmu yang tidak ada korelasinya dengan bidangnya pasti masih membutuhkan waktu beradaptasi.
Apabila seorang insinyur bergelut dibidang keuangan atau perbankan, apakah lantas seorang ekonom atau akuntan melakukan pekerjaan seorang insinyur? Jawabannya hal itu bisa saja terjadi tapi dengan resiko. Resikonya adalah sumber daya manusia yang tidak berkualitas karena terjadi pergeseran tugas dan fungsi serta keahlian. Kenapa demikian? Karena tidak ada ilmu atau keahlian yang berkorelasi dengan tugas, fungsi serta keahlian yang dimiliki.

Jadi sumber daya manusia yang berkualitas merupakan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dalam menyelesaikan setiap pekerjaan atau tugas yang ada dengan sebaik-baiknya. Kualitas pekerjaan atau tugas yang dilakukan dipengaruhi oleh kemampuan serta keahlian yang dimiliki oleh sumber daya manusia. Sehingga apabila sumber daya manusia yang tidak memiliki keahlian berarti bukan merupakan sumber daya manusia yang berkualitas. Kemampuan serta keahlian di dapat dengan belajar atau menuntut ilmu. Sehingga menjadikan ilmu sebagai pondasi untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.

DOWNLOAD TO PDF
Etika Dalam Bisnis

Persaingan yang sehat dalam berbisnis adalah persaingan yang menjaga etika. Apabila bisnis dilakukan dengan mengabaikan etika maka akan terjadi persaingan yang tidak sehat, sehingga dapat merugikan para pesaing bahkan para konsumen. Bisnis yang baik adalah bisnis yang senantiasa selalu menjaga kepuasan konsumennya. Kuncinya adalah memegang teguh etika dalam berbisnis.
Perlukah Etika Dalam Bisnis?
Etika bisnis sangat diperlukan sebagai pegangan dalam berbisnis. Apabila bisnis melakukan pelanggaran etika, maka dapat menjadi bumerang bagi bisnis itu sendiri. Hal ini disebabkan karena para konsumenlah yang akan dirugikan. Apabila suatu bisnis telah kehilangan konsumennya maka bisnis tersebut akan mati. Etika juga diperlukan untuk menjaga persaingan bisnis yang sehat. 
Etika Guna Membangun Persaingan Bisnis yang Sehat
Distributor, pasar atau sejenisnya menjual beragam jenis barang guna mencukupi kebutuhan konsumen yang beragam. Apabila distributor, pasar atau sejenisnya hanya menjual satu jenis barang yang sama maka tidak ada persaingan produk disitu. Hal ini karena hanya segelintir orang yang akan membeli mengingat tidak semua konsumen membutuhkan barang yang ditawarkan tersebut. Sebaliknya apabila pasar menjual barang beragam, berbagai kebutuhan yang dibutuhkan konsumen, maka akan banyak konsumen yang datang dengan bermacam-macam kebutuhan dan kepentingan.
Contoh:
Mini market atau swalayan menjual beragam jenis barang sejenis berbeda merk agar konsumen dapat memilih dan membandingkan produk yang terbaik. Apabila produk yang ditawarkan sama maka akan membuat konsumen bosan, dan juga ada konsumen yang cocok dengan dengan satu merk dan juga ada yang cocok dengan merk yang lain.
Hal yang perlu diingat produsen adalah persaingan sehat merupakan koreksi atas suatu produk. Produsen tidak akan mengetahui kekurangan atau kelebihan produknya apabila tidak ada pesaing. Sehingga dari pesainglah kemudian diketahui kekurangan serta kelebihan dari suatu produk yang ditawarkan.
Contoh:
Barang yang ditawarkan PT. X lebih laris dari PT. Y. Dari situ kemudian PT. Y dapat membandingkan mengapa barang yang ditawarkan PT. X lebih laris. Setelah di teliti ternya barang PT. X lebih murah dibanding PT. Y.
Dari contoh di atas jelas persaingan bisnis yang sehat sebagai koreksi suatu produk. Sehingga dari pesaing tersebutlah kelebihan dan kekurangan suatu produk dapat diketahui. Sehingga jelas persaingan yang sehat itu sangatlah penting. Menjaga etika berbisnis akan menciptakan persaingan yang sehat seperti gambar dibawah ini:
Dari gambar di atas jelas digambarkan bahwa persaingan harus menjaga batasan-batasan yang ditetapkan guna menjaga persaingan yang sehat. Apabila telah melewati batasan atau ketentuan hukum yang ada maka perbuatan tersebut merupakan pelanggaran etika.
Contoh:
Produsen X menjual barang lebih murah dari Produsen Y. Hal tersbut masih terlihat wajar dalam persaingan mendapatkan konsumen. Tetapi akan terjadi persaingan tidak sehat apablia Produsen X menjual barang lebih murah dengan menekan biaya produksi dengan cara mencampurkan dengan bahan berbahaya sehingga harganya lebih murah.
Jadi kesimpulannya adalah berbisnislah dengan sehat. Apa berbisnis yang sehat itu? Yaitu berbisnis menggunakan etika.
DOWNLOAD TO PDF