ALVIN ARIFIN
Search for:
Inspirasi Kopi

Pernahkah anda menyelesaikan pekerjaan atau bahkan mencari inspirasi dengan secangkir kopi? Menyelesaikan permasalahan apapun serta dimanapun berada yang terpenting bersama khas aroma dan secangkir kopi. Ketika anda menemukan inspirasi bersama dengan kopi itulah inspirasi kopi. Sebaliknya ketika kopi itu menjadi inspirasi anda maka itulah kopi inspirasi.

Ketika permasalahan tak bisa diselesaikan di tempat kerja, mungkin warung kopi menjadi solusi. Ketika Pegadaian memiliki tagline menyelesaikan masalah tanpa masalah, maka tagline yang pas untuk warung kopi adalah menyelesaikan masalah dengan secangkir kopi. Andai permasalahan belum terpecahkan, mungkin kopi anda kurang pahit. Karena hakikatnya rasa kopi adalah pahit.

Ketika kopi terlalu banyak racikan gula maka akan berkurang aroma khas kopi, berganti aroma gula yang kurang tepat. Gula hanya sebatas pemanis minoritas bukan bahan dominan dalam secangkir kopi pekat. Tak perlu dominan yang penting ada rasa manis sekelebat. Ketika kombinasi tepat maka akan tercipta secangkir kopi yang nikmat.

Kopi terbaik adalah kopi hasil racikan bukan kopi instan. Karena segala kenikmatan adalah melalui sebuah proses yang tak instan. Begitupun keberhasilan dan kesuksesan akan terasa manisnya ketika melalui proses berkesinambungan. Oleh sebab itu kopi tak perlu terlalu manis karena ketika prosesnya sudah dilalui, maka akan terasa manis kemudian.

Menjadi hal kaprah ketika seorang teman mengajak nongkrong dengan istilah “ngopi”, padahal yang dibeli bukan kopi. Menjadi hal kaprah ketika orang mengantuk yang lazimnya kurang tidur malah disebut kurang ngopi. Menjadi hal kaprah ketika kopi menjadi sebab orang bersosialisasi dan menemukan inspirasi. Menjadi hal kaprah ketika menjadikan kopi teman berpikir di malam hari.

Inspirasi tercipta dari proses pemikiran bahkan perenungan. Inspirasi tak hanya dari diri sendiri tetapi dapat melalui perantara orang lain. Sosok orang yang menjadi inspirasi tentunya dalam hal kebaikan bukan hal keburukan. Hal baik menjadi inspirasi serta percontohan dan yang buruk cukup sebatas pelajaran.

Gradasi Pemikiran

Globalisasi membuat kemajuan dalam aspek teknologi serta pemikiran. Peralihan dari tradisional ke dalam tataran modernitas. Tidak serta merta kemajuan serta peralihan ini dapat diterima oleh sebagian orang. Dalam beberapa hal memang tak semua hal yang modern dapat menggantikan sesuatu yang tradisional. Setidaknya, tak perlu tutup mata dalam menerima kemajuan zaman.

Memasuki zaman modern saat ini tentunya harus dihadapi dengan optimisme. Tidak hanya dari dampak globalisasi yang mempengaruhi penerapan teknologi tetapi juga dari segi pemikiran. Tanpa harus menghilangkan segala pemikiran tradisional tetapi harus disertai penambahan pengetahuan. Jangan sampai di era modern justru masuk ke dalam tataran individu ketinggalan zaman.

tidak semua yang tradisional itu ketinggalan zaman

Terdapat beberapa faktor yang menjadi pertimbangan sesuatu yang tradisional tetap digunakan meskipun telah masuk zaman modern. Salah satu sebabnya adalah ketika segala sesuatu yang modern tidak mampu mengakomodir hal tradisional tersebut. Mempertimbangkan hal tersebut, tidak boleh ada penghakiman negatif untuk itu.

Manusia memiliki cara pandang yang berbeda-beda. Mustahil semua manusia memiliki pemikiran sentral. Setiap pemikiran harus dibatasi oleh moral berpikir. Jangan jadikan kebebasan berpikir membuat sesorang mengeksplor imajinasinya untuk sesuatu yang negatif. Setiap orang harus mampu mengkontrol pikirannya, jangan sebaliknya. Pemikiran yang salah akan menjadikan perbuatan pun salah.

jangan sampai kemajuan zaman saat ini justru terjadi degradasi pemikiran

Kebebasan berpikir menjadikan manusia dapat mengeksplor segala macam hal kedalam pikirannya. Cara pandang berbeda masing-masing individu membuat menafsiran pun juga berbeda. Cara pandang berbeda jangan sampai dijadikan alasan untuk membenarkan pemikiran yang salah. Cara berpikir sehat yang seharusnya dilakukan agar tidak timbul hal yang melenceng dari semestinya.

Keterbukaan teknologi informasi menambah khazanah pemikiran dengan berbagai aspek pengetahuan. Luasnya samudera keilmuan zaman ini jangan sampai mempersempit pemikiran. Selama kebenaran itu masih relatif, tentu jangan sampai ada fanatisme buta dengan menyempitkan pikiran. Pemikiran yang positif menciptakan perbuatan positif.

selalu berpikir positif

Kegilaan dibalik Kegagalan

Sebagian besar orang tentunya mengharapkan keberhasilan dalam setiap hidupnya. Tapi sadarkah kiranya bahwasanya secara realistis manusia tak kan luput dari yang namanya kegagalan. Jangan pandang kegagalan sebagai kesialan apalagi bencana dalam hidup. Terdapat hikmah dalam setiap kegagalan. Mungkin, perlu adanya cara yang berbeda guna berhasil. Semakin banyak mencoba semakin muncullah ide kreatif. Jangan batasi kreatifitas dengan sikap pesimistis yang tak logis.

“berpikir logis dalam setiap berkarya tanpa mengesampingkan optimisme keberhasilan”

Bagi orang yang memiliki jiwa pantang menyerah tentunya kegagalan bukan merupakan bencana, tetapi merupakan pemicu untuk semakin berkarya. Hilangnya semangat berkarya merupakan bencana yang tanpa disadari akan muncul ketika seseorang sudah mulai putus asa. Ingat! Putus asa merupakan sikap orang yang tidak ingin kembali mencoba. Terulangnya kegagalan ketika apa yang dilakukan tetap masih menggunakan cara yang sama. Gunakan cara atau sesuatu yang berbeda dan teruslah mencoba sampai orang sudah menganggap apa yang dilakukan “gila”.

Ketika orang mencoba tanpa menyerah melakukan sesuatu dalam hidupnya bisa jadi orang tersebut merupakan orang “gila”. Gila dalam artian konotatif. Kegilaan dikala seseorang mencoba sampai titik darah penghabisan. Tidaklah kesuksesan itu merupakan hasil dari kerja keras. Perspektif seseorang menyaksikan suatu perjuangan yang dianggapnya mustahil sampai dia benar-benar berhasil. Itulah yang disebut kegilaan.

Mencari Eksistensi Buta

Eksistensi sebenarnya merupakan cerminan keberadaan manusia yang diakui. Ketika ada eksistensi yang tak diakui, tentunya orang akan mencari cara memunculkan eksistensinya. Cara yang dibuat-pun beragam. Ketika anak kecil merengek-rengek itu tandanya si anak mencari perhatian. Ada eksistensi yang dibuat dengan prestasi, tapi ada pula yang menggunakan cara-cara yang tak elok. Mungkin ketika orang belum dewasa, cara-cara tak elok dapat dibenarkan. Tetapi untuk orang dewasa yang tidak memiliki jiwa kekanak-kanakan tentunya hal ini menjadi tabu.

Eksistensi buta ketika membenarkan segala cara dalam memunculkan eksistensi. Berjoget di tengah jalan, teriak-teriak di atas atap, mungkin akan memunculkan label “gila”. Tak hanya eksistensi “gila” tetapi eksistensi negatif pun akan kerap dilakukan ketika prestasi tak dapat dikejar, maka cara tersebut menjadi jalan. Ketika telah memilih jalan apapun, maka “label” pun siap melekat. Label yang tak memiliki makna khiasan, melainkan arti yang sebenarnya itulah yang perlu dihindari.

“eksistensi tanpa arogansi, kritis harus logis, idealis jangan egois”

Banyak cara melakukan sesuatu yang positif. Jernihkan pikiran tanpa ego. Lakukan perbuatan dengan akal sehat. Rasionalisasi dari eksistensi muncul melalui pikiran jernih yang disertai akal sehat. Ego merupakan sesuatu yang keras dan dapat memunculkan eksistensi buta, karena akal dan pikiran sudah tertutupi olehnya sehingga mengenyampingkan sesuatu yang rasional. Oleh sebab itu perlunya mengatur ego kita untuk sesuatu yang positif. Manusia sebagai makhluk pemilik akal sebaiknya mengelolanya dengan baik, jangan sampai dikalahkan oleh ego yang tak rasional.

“selagi kita ini masih belum hidup di goa, sayangilah sesama jangan cari masalah”